Halaman

Karena Di Anggap Gagal, Elpiji 3 Kg Sering Bunuh Rakyat Kecil

Ketua Departemen Sosiologi FISIP Universitas Indonesia, Linda Damayanti, menyatakan, insiden ledakan tabung gas elpiji 3 kg merupakan dampak penerapan kebijakan tanpa berlandaskan riset.

Hal ini diperparah oleh minimnya sosialisasi untuk menginternalisasi nilai-nilai keamanan penggunaan elpiji 3 kg kepada masyarakat penerima paket konversi mitan ke elpiji itu.

"Pemerintah tidak usah malu untuk mengevaluasi program konversi dan mengakui kegagalan dalam pelaksanaannya. Ke depan, bagaimana menghilangkan kepanikan masyarakat dan memperbaiki implementasi," ujar Lidna Damayanti dalam diskusi "Akuntabilitas Keamanan Penggunaan Elpiji Kemasan 3 Kilogram", Selasa (22/6/2010), di Jakarta.



Ia menambahkan, "Koordinasi antarlembaga jadi penting, tidak bisa hanya Pertamina dan konsultan tanpa berkoordinasi dengan pemerintah lokal atau lembaga terkait."

Menurut dia, selama ini terjadi kesalahan metode sosialisasi mengenai penggunaan elpiji 3 kg secara aman. Sosialisasi hanya menyentuh kaum pria yang menjadi kepala rumah tangga, sedangkan para ibu rumah tangga sebagai pengguna akhir elpiji 3 kg justru luput dari sasaran kebijakan.

"Sosialisasi jangan hanya mengumumkan dan mengkomunikasikan, tetapi harus menginternalisasikan nilai-nilai keamanan pada masyarakat," ujarnya.

Sementara, anggota Fraksi PKS Komisi VII DPR, Zulkieflimansyah, menambahkan, Kementerian Komunikasi dan Informatika serta kementerian terkait lain harus meningkatkan sosialisasi mengenai program konversi minyak tanah ke elpiji.
Adapun implementasi soal siapa yang boleh menggunakan elpiji 3 kg, spesifikasi barang gas maupun aspek pengamanan, menjadi tugas Direktorat Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Ia menambahkan, konversi minyak tanah ke elpiji 3 kg bukan sekadar membagikan paket konversi. Lebih dari itu, kebijakan tersebut untuk mengurangi beban subsidi energi, menghemat pengeluaran negara dan masyarakat. Karena itu, kebijakan publik itu harus diterapkan dengan menggunakan pendekatan lintas sektoral.


Sumber Dari : Kompas.com

0 CommentS:

Poskan Komentar

Terima kasih atas Komentarnya ya..

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Cari

Memuat...
Diberdayakan oleh Blogger.

Twitter

Pengikut

Statistik