Halaman

Review Sosiologi Pendidikan

MORALITAS DALAM PENDIDIKAN
Bila kita melihat tentang moralitas kita dapat melihatnya dalam konsep dari Durkheim tentang fakta sosial. Fakta sosial melihat bahwa manusia bukan individu yang bebas tetapi terikat dalam kelompok, yang didalamnya terdapat nilai-nilai yang disepakati atau konsensus. Kelompok-kelompok tersebut membuat semacam aturan yang mengatur tentang tindakan-tindakan yang nantinya akan dimaknai dan diberi nilai atau dianggap baik atau tidak. Hal tersebut dalam konsep Durkheim disebut dengan collective consigness. Jadi moralitas adalah aturan yang dimunculkan dalam konsensus.


Sementara itu melalui dimensi Webber yang melihat atau fokus objeknya pada individu, maka kita dapat melihat melalui konsep dari Webber tentang tindakan rasionalitasnya. Disini Webber mengungkapkan dalam moralitas ada tujuan yang ingin dicapai, tujuan yang dilandasi oleh alat dan nilai. Jadi disini rasionalitas merupakan tindakan atau pikiran individu sedangkan moralitas adalah sebuah prinsip pilihan untuk nilai-nilai. Artinya dalam melakukan moralitas manusia terlebih dahulu melakukan rasionalitas untuk mengklasifikasikan tindakannya.

IDEOLOGI PENDIDIKAN
Bila kita melihat ideologi sebenarnya sangat erat kaitannya tentang dunia politik. Berger melihat bahwa negara sebagai lembaga kekuasaan yang terbesar dalam menentukan eksternalisasi individu-individu, yaitu tindakan penyesuaian diri kedalam dunia sosiokultural yang muncul ke dalam tindakan-tindakan tertentu. Namun negara bagi Marx, adalah representasi sekumpulan kelas swasta yang mendominasi modal. Jadi disini Negara memiliki otoritas yang mengekang individu untuk patuh kepadanya. Dan yang menentukan ideologi adalah orang yang mempunyai wewenang yaitu para elit. Pengertian ideologi dalam pemahaman Berger adalah suatu dunia arti simbolik yang universal, yang merupakan pandangan hidup masyarakat. Fungsinya adalah untuk memberikan legitimasi pada konstruksi sosial yang sudah ada serta memberikan makna pada berbagai bidang pengalaman mereka sehari-hari.

Negara dan kekuasaan yang dimilikinya menghendaki struktur sosial yang sesuai dengan kepentingannya. Aturan-aturan diciptakan dan dipaksakan sebagai pengetahuan dalam masyarakat, sehingga terbentuklah kenyataan sosial yang dikehendaki. Ketika negara dalam frekwensi tertentu mengurangi, atau terpaksa mengurangi karena faktor tertentu, dominasinya dalam menetukan kenyataan, konstruksi sosial akan melibatkan peran kelompok-kelompokl sosial lainnya yang memiliki kepentingan dalam menentukan kenyataan.
Keterkaitan antara pengetahuan dan kepentingan, menyebabkan munculnya fenomena ideologi. Karena kepentingan memiliki sifat subjektif, dan bagi Mannheim menyebabkan pengetahuan tidak lagi bersifat universal, maka pengetahuan yang telah dikendalikan kepentingan menjadi ideologi.
KULTUR DALAM PENDIDIKAN
Dalam kaitannya dengan kultur maka kita dapat melihat output dari apa yang diciptakan kultur tersebut. Bordieu melihat dari apa yang disebutnya sebagai reproduksi, dimana disini kita melihat dari apa yang nantinya akan dihasilkan oleh manusia. Maka kultur nantinya akan membentuk ideology, profit, struktur kelas. Jadi di dalam pendidikan kita yang patriarki akan membentuk pola pikir masyarakat kita, yang nantinya akan berkembang menjadi ideologi. Dari ideologi itu nantinya akan menciptakan suatu nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. Sehingga nantinya akan juga membentuk lapisan-lapisan masyarakat atau struktur kelas.
Di dalam pendidikan terdapat apa yang disebut conscientizacao atau proses penyadaran. Dimana disini sering kita sebut sebagai dehumanisasi atau proses memanusiakan manusia sebagai makhluk yang sadar. Dalam menciptakan kultur kita dapat menggunakan signifield atau petanda, hal ini adalah sesuatu yang berbentuk fisik. Signifier atau penanda, hal ini adalah berbentuk sebuah konsep.
POLITIK DALAM PENDIDIKAN
Pendidikan adalah proses reinance yang dipercaya dapat merubah kehidupan manusia menjadi lebih baik. Pendidikan adalah upaya sadar dari seseorang guna memperoleh kesadaran. Kesadaran yang dimaksud disini sesuai dengan manusia yaitu makhluk yang paling sempurna diantara makhluk lain karena memiliki akal pikiran. Jadi sesuai dengan hal tersebut hakekat pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Dalam proses pendidikan pun tertuang akan gagasan tersebut yaitu bahwa proses dari pendidikan memiliki tujuan mengembangkan seluruh potensi kemanusiaan yang dimiliki guna beradaptasi untuk meghadapi kehidupan. Artinya pendidikan yang diwakili oleh sekolah sebagai lembaga yang berwenang untuk melaksanakan proses pendidikan merupakan tempat adaptasi untuk menjalani kehidupan, dimana lembaga ini merupakan jembatan antara kehidupan keluarga dan linkungan (masyarakat).
Sedangkan definisi politik menurut J. Barents dalam bukunya Ilmu Politika: “Ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari kehidupan negara … yang merupakan bagian dari kehidupan masyarakat, ilmu politik mempelajari negara-negara itu dalam melaksanakan tugas-tugasnya.” Jadi politik dimaknai sebagai suatu otoritas dari Negara untuk mengatur kehidupan kenegaraannya. Dimana disini Negara sebagai pengatur aturan main yang akan digunakan dalam berbagai aspek dan rana kehidupan.
Rana pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari rana-rana social dan kehidupan misalnya saja politik. Politik dalam pendidikan dapat dilihat dari dimensi hegemoni dari Gramsci yaitu dibedakan antara basic (masyarakat pendidikan) dan struktur (lembaga sekolah). Hegemoni didefinisikan sebagai consensus tentang kebijakan, keputusan politik atau apapun tentang penguasa yang disepakati tanpa sadar oleh massa. Gramsci melihat hegemoni ini berdasarkan basis ekonomi yang jadi wewenang disini dilandasi basis ekonomi. Jadi wewenang didasarkan ekonomi atau materi, diantaranya jabatan, kekayaan.
Negara memang memiliki otoritas untuk mengatur pendidikan namun adanya kepentingan-kepentingan pribadi inilah yang patut disoroti sebab hal inilah yang menyebabkan pendidikan menjadi subjectif dan tidak objektif seperti semestinya. Paulo Freire menjelaskan tentang hakekat pendidikan yaitu pendidikan magi, pendidikan naif, pendidikan kritis .
Jadi kita bisa melihat asal usul pendidikan yang pertama pendidikan magi menganggap guru sebagai dewa atau didewakan karena guru dianggap sebagai orang yang dianggap sebagi serba tahu. Yang kedua pendidikan naif adalah pendidikan yang diatur oleh intitusi jadi pendidikan tahap ini sangat subjektif. Pendidikan ini ditandai dengan sudah terstrukturnya pendidikan dan ada yang mengatur. Yang ketiga adalah pendidikan kritis yaitu perkembangan dari fase pendidikan yang mencoba mementingkan kesadaran dari individu. Pendidikan ini adalah pendidikan yang dianggap sesuai dengan hakekat pendidikan.
Kebudayaan secara struktural sulit dipisahkan dari sistem, struktur ekonomi dan politik yang ada. Oleh karena itu banyak orang yang pesimis untuk berharap ekspresi budaya mampu memainkan peran kritis untuk perubahan, karena karya seni dan budaya dianggap sebagai ‘reproduksi’ sistem yang ada.
TEKNOLOGI DALAM PENDIDIKAN
Teknologi adalah sesuatu hasil karya manusia yang ditujukan untuk mempermudah pekerjaan manusia atau infrastruktur yang diciptakan untuk menunjang kehidupan manusia. Kehidupan manusia dalam memenuhi kebutuhan dilihat oleh Maslow dan diidentifikasi kedalam beberapa kategori. Diantaranya kebutuhan biologis, keamanan, rasa sayang, esteem, estetika, aktualisasi diri, dan kebutuhan spiritual. Jadi teknologi dibutuhkan untuk mengaktualisasi kebutuhan. Sedangkan dalam pendidikan pun ada kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi, terlebih pendidikan harus dapat memberikan atau mengaktualisasi kemampuan-kemampuan yang nantinya dapat digunakan untuk menjalani kehidupan. Jadi ketujuh unnsur maslow juga berperan dalam pemenuhan manusia.
Dari konsep awal teknologi maka dalam pendidikan pun perlu akan adanya teknologi. Teknologi yang dikonsep disini sesuai dengan kemajuan zaman terlebih lagi pendidikan harus sesuai dengan perkembangan zaman.
Teknologi dalam pendidikan merupakan bagian dari konsep teknologi pendidikan berupa media untuk memperlancar kegiatan instruksional. Potensi penggunaan teknologi dalam pendidikan berkaitan dengan usaha peningkatan produktivitas pendidikan, memungkinkan pendidikan bersifat individual, cepat dan lainnya. Implementasi teknologi dalam pendidikan hendaknya selektif sesuai konteks sesuai karakteristik si belajar dan tingkat kognitifnya.
KONFLIK DAN KEKERASAN DALAM PENDIDIKAN
Bila kita melihat konflik maka kita melihat dari perspektif marxis, yang mendasarkan konflik pada basis materi. Dimana konflik yang terjadi merupakan konflik yang berbasis vertikal, seperti apa yang ia sebutkan dengan basic dan struktur. Bila kita melihat dalam rana pendidikan kita dapat melihat konflik antara lembaga pendidikan dengan masyarakat pendidikan. Sedangkan dalam proses pendidikan kita melihat konflik antara guru dan murid. Konflik ini bermula dari berbedanya wewenang. Sedangkan kekerasan adalah representatif dari konflik yang memuncak, kekerasan sering diidentifikasi dengan kontak fisik.

0 CommentS:

Posting Komentar

Terima kasih atas Komentarnya ya..

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Cari

Adsense Indonesia
Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Statistik

Adsense Indonesia