Halaman

MAKNA INTEGRASI

A. Membatasi konflik
Antagonisme politik cenderung diungkapkan secara keras, karena memberikan perhatiannya kepada pertanyaan – pertanyaan dasar manusiawi. Setiap orang wajar untuk mempergunakan setiap alat yang diperolehnya, termasuk kekerasan untuk mempertahankan privilege melawan serangan dari mereka yang tertindas dan dieksploitasikan dan menjamin kemenangan. Konflik tetap diselesaikan dengan pertumpahan darah.



B. Pemberantasan kekerasan
Politik suatu usaha terus – menerus untuk memberantas kekerasan fisik dan memberikan antagonisme sosial dan individual alat-alat ekspresi lain yang kurang kasar, kurang brutal, dan kurang berdarah.
Perang berarti penggunaan kekerasan fisik untuk memecahkan konflik. Politik adalah penggunaan cara non – violent atau, untuk lebih cepat, kurang kejam.
Tiga tahap di dalam proses memberantas senjata kekerasan. Tahap pertama, kekerasan yang mapan tidak cukup kuat untuk menghindari musuh – musuh yang pasti untuk berhadapan satu sama lain dengan kekerasan fisik. Hanya membatasi penggunaan kekerasan, membatasinya dan mengaturnya. Tahap kedua, bentuk yang brutal dan barbar ini digantikan oleh bentuk kekerasan yang berbudaya: penjarahan dan pembunuhan digantikan oleh pemogokan; kerja paksa dan penjara digantikan oleh lock – out. Tahap ketiga, politik memberantas kekerasan fisik secara keseluruhan, mengantikannya dengan jenis pertempuran yang lain, seperti pertempuran dalam pemilihan, perdebatan dalam parlemen, dan diskusi – diskusi komite.
Proses – proses demokratis dengan demikian lebih moderat, alat – alat pengungkapan pergolakan politik yang kurang brutal daripada kekerasan fisik. Demokrasi cenderung mengantikan konflik bersenjata dengan diskusi, senjata api dengan dialog, beradu tinju dengan argumen, dan adu jotos dan senjata dengan kotak suara. Hukum mayoritas lebih berbudaya, bentuk yang kurang brutal dari “kekuatan membikin kebenaran” (might makes right). Konkritnya kita telah mempunyai pilihan antara hukum yang didasarkan pada jumlah dan hukum pada kekerasan dan senjata mesin. Membatasi perkelahian dengan menghentikan kekerasan adalah berbicara secara wajar, bukan integrasi. Dalam lapangan pergolakan politik, namun kita bergerak menuju wilayah integrasi. Mengubah alat pertempuran juga berarti mengubah karakternya. Kekerasan menghasilkan pergolakan yang tidak mengenal belas, tidak berkompromi; dia mengembangkan jiwa kebencian dan dendam yang semakin meningkatkan antagonisme awal. Motif yang asli cenderung menghilang dan memberikan jalan kepada lain – keinginan untuk membalas dendam. Mengeluarkan kekerasan dari konflik beranggapan bahwa semua musuh menerima batasan tersebut. Membatasi konflik adalah kompromi pertama, tindakan koperasi pertama, langkah awal meneuju integrasi.

C. Batas – batas dalam memberantas kekerasan
Kekerasan tidak pernah diberantas secara seutuhnya, meskipun politik adalah usaha untuk memberantas penggunaan kekerasan, ia tidak pernah berhasil seluruhya, kekerasan senantiasa ada, bahkan di dalam masyarakat yang paling beradab, paling baik diorganisir, dan paling demokratis.
Pada tempat pertama, ada sejumlah residu kekerasan; beberapa individu yang terisolir, sebuah kelompok minoritas, dan beberapa unsur fanatik akan terpaksa menggunakan tinju, kayu pentung, bahkan bom dan revolver. Dan ada sejumlah kekerasan laten di dalam masyarakat pada umumnya: kelas – kelas, kelompok, dan individu – individu.
Kekuasaan (negara itu sendiri) berdiri di atas kekerasan. Kekuasaan mempergunakan kekerasan untuk menghindari kekerasan lebih besar; kekerasan yang legal adalah jalan untuk menahan kekerasan. Akan tetapi prakteknya tidak senantiasa sesuai dengan teorinya. Dalam negara, kekuasaan pada umunya sebagai cara paksaan kolektif yang di pakai oleh kelas yang dominan untuk menjamin eksploitasinya terhadap kelas – kelas yang berada di bawahnya, politik bukanlah memberantasi kekerasan, akan tetapi monopolisasi, dan organisasi.
Sentralisasi, monopolisasi, dan organisasi menghasilkan pengurangan penggunaan kekerasan. Lenin dalam The State and Revolution; “Negara adalah organisme untuk dominasi kelas – kelas, organisme bagi penindakan satu kelas oleh kelas lain; dia adalah pencipta suatau “tatanan” yang lain; dia adalah penciptaan suatu “tatanan” yang melegalisir dan menguatkan penindasan ini dengan pengendalian konflik kelas. “mengendalikan konflik” Friedrich Engels, yang dalam The origin of the Family, Private Property, and State. Bagi kaum Marxis munculnya negara dan kekuasaan yang terorganisir memperkuat penindasan dari satu kelas sosial oleh yag lain, dengan melembagakannya, mengaturnya, dan membuatnya resmi

D. Makna Kompromi
Kita tidak lagi memberikan perhatian kepada mengatur pergolakan politik, akan tetapi pada akhirnya dengan penyesuainan isu yang dipertaruhkan. Mencapai kompromi adalah satu fungsi politik yang utama.
Kita harus membedakan antara teknik kompromi – negosiasi dan abitrase. Pihak – pihak yang bergolak bisa mencoba menyesuaikan perbedaan – perbedaannya oleh mereka sendiri melalui diskusi dan dialog, proses demokrasi yang normal. Wakil – wakil dari pihak – pihak yang saling bertentangan bertemu disekitar meja perundingan dan mencoba mengerjakan syarat – syarat penyelesaian, sambil memperhatikan kepentigannya masing – masing, dan masing – masing harus membuat konsensi. Akan tetapi, pihak yang bertentangan bisa juga naik banding kepada pihak ketiga yang tidak mempunyai kepentingan, yang mewakili diri mereka untuk menyelesaikan pertentangannya.
Pada umumnya demokrasi sesuai dengan jenis kompromi yang pertama; proses-prosesnya memberikan konfrontasi yang permanen dari kelompok – kelompok yang bertentangan dengan jenis kompromi yang kedua. Partai – partai independen yang otokrasi sesuai dengan jenis kompromi yang kedua. Partai – partai independen dan yang ditempatkan di atas kelas, fraksi – fraksi, dan individu, di dalam posisi arbiter. Tidak ada bentuk pemerintahan yang sama sekali luput dari kekacauan, akan tetapi negara otokrasi tidak terlalu kacau dibandingkan dengan yang lainnya.
Kentungan kerahasiaan, yang disukai oleh lembaga – lembaga otokrasi, adalah secara relatif tidak penting dibandingkan dengan kenyataan bahwa seluruh strukturnya cenderung ke arah pemecahan unilateral, yang dipaksakan dari atas dan ini adalah justru berlawanan dengan kompromi.

E. Batas-batas kompromi
Kompromi – kompromi politik terbatas oleh hakikatnya sendiri. Prinsip kompromi adalah “Membagi kue menjadi dua” dan memberikan separuh kepada setiapnya.”Kompromi yang ideal, kompromi yang sempurna, akan membuat keseimbangan antara keuntungan dan pengorbanan dari setiap pihak yang bertikai. Didasarkan pada keadilan pada bentuk (kesamaannya) yang fundamental, yang disimbolkan dalam skala. Semakin adil syarat –syaratnya semakin gampang mencapai kompromi. Keadilan memainkan peranan yang penting dalam proses integrasi. Definisi keadilan tergantung pada ideologi dan sistem – sistem nilai dari masyarakat tertentu.
Berhubungan dengan pembagian benda dan keuntungan sosial dan benda - benda tidak terlalu melimpah dibandingkan kebutuhan terhadapnya. Dalam kenyataannya kompromi mencerminkan hubungan kekuasaan yang sama atau lebih yang mencerminkan keadilan. Kompromi hanyalah mungkin ketimpangan dalam kekuatan – kekuatan relatif tidak terlalu besar, dan kalau kelanjutan komplitnya mengandung lebih banyak rugi dari pada keuntungan bagi kedua belah pihak. Kompromi mencerminkan keseimbangan kekuasaaan yang berlaku ketika kekuatan – kekuatan yang bertikai mundur demi saling akomodasi. Kontras antara konflik dan kompromi tidaklah absolut. Kompromi bukanlah akhir dari pertikaian, tapi hanya gencatan senjata, yang oleh perubahan dalam keseimbangan kekuasaan diganti dengan yang lain. Proses kompromi tetap berlangsung selama ketidakseimbangan kekuasaan tidak terlalu besar atau antagonisme tidak serius.

F. Perkembangan Solidaritas
Jika ada suatu masyarakat tanpa pergolakan tapa konflik, tanpa antagonisme, tidak akan terintegrasi secara penuh bila anggotanya tetap terisolir dari anggota yang lain tanpa hubungan atau ikatan personal. Tidak ada integrasi sosial yang mungkin tanpa adanya perkembangan solidaritas sosial

G. Solidaritas Mekanikal
Solidaritas merupakan akibat dari struktur komunitas hidup, dimana setiap individu membutuhkan orang lain dalam suatu jaringan hubungan yang saling masuk dengan yang lain. Durkheim mellihat dalam pembagian asal kerja dari suatu jenis solidaritas awal. Sedikit berkembang dalam ekonomi tertutup, primitif, solidaritas jenis ini tumbuh sebagai aktifitas manusia yang lebih spesialisasi dan kontak pertukaran semakin meningkat. Kita bisa mengatakan bahwa dunia menjadi semakin socialized sebagaimana Paus Johanes XXIII ditekankan dalam ensikliknya Pacem in Terris. Akan tetapi dalam ekonomi kapitalistik, solidaritas ini tinggal menjadi materialistis murni. Publisitas yang diberikan perusahaan penerbitan sebagai servis hanyalah direncanakan untuk menarik konsumen bagi produknya.
Bukan urusan mereka memberikan servis tapi mencari uang. Kepentingan berasal dari persistensi mentalitas kapitalistis. Evolusi sosial cendeerung untuk menguranginya secara setahap. Menghapus motif – motif pribadi yang bersifat ingat diri dan menggantikannya dengan motif altruistik tetap menjadi tujuan utama dalam sosialisme, bahkan tujuan ini kelihatannya tidak terlalu gampang dicapai dibandingkan dengan yang pertama diyakini. Egoisme adalah bentuk alienasi.

H. Solidaritas Psikologis
Masalah menggantikan kepentingan pribadi dengan servis sosial adalah bergerak dari solidaritas mekanikal pada solidaritas psikologis. Solidaritas yang sungguh terasa, dibagi – bagi dan dialami semua anggota masyarakat. Durkheim berpendapat bahwa kesamaan merupakan sumber solidaritas yang kedua. Pertama setiap masyarakat berdasarkan keserupaaan; komunitas bahasa, agama, adat istiadat, mitos, dan sistem nilai, dalam arti yang lebih umum, kebudayaan adalah fundamental terhadapnya. Arnold Toinbee menekankan pengaruh permusuhan “tantangan”, perjuangan melawan rintangan, di dalam mengembangkan ikatan – ikatan komunal. Rasa solidaritas didasarkan tidak selalu pada keserupaan atau kedekatan fiskal dari anggota – anggota komunitas dibandingkan dengan citra kolektif yang penting dalam hubungan ini: citra yang sudah dibentuk oleh anggota suatu komunitas pada masa lalu. Citra yang dipunyainya pada masa sekarang dan citra yang mereka proyeksikan bagi masa depan bersama. Perkembangan solidaritas mungkin didasarkan pada satu naluri manusia yang paling dalam. Keinginan untuk bersama dalam kelompok, dimana setiap orang menemukan pemenuhan total dari kehadirannya, mungkin merupakan sumber utama dari kehidupan kolektif. Dalam kota ini setiap anggota akan diikat satu sama lain, bukan oleh kontrak hukum, mekanisme pertukaran pembagian kerja, atau rantai debit dan kredit akan tetapi oleh saling pengertian, altruisme dan cinta. Meskipun mengambil jalan pendekatan yang berbeda-beda baik Karl Marx dan Pierre Teilhard de Chardin percaya bahwa ini bukan saja sebuah mimpi visioner, akan tetapi bahwa manusia menuju arah yang sedang berkembang.

I. Ikatan dengan Generasi – generasi Lain
Solidaritas tersebut di atas mempersatukan manusia – manusia yang hidup dalam suatu masyarakat pada saat tertentu dalam sejarahnya, yang artinya, orang-orang dari beberapa generasi yang hidup bersama pada saat yang sama. Karakteristik yang diperoleh seseorang selama masa hidupnya tidak diwariskan secara biologis pada turunan – turunannya; hukum genetika Mendel yang di dasar ini hampir diterima secara universal pada masa sekarang sejak awalnya sekali beralih seluruhnya pada masyarakat. Manusia masa kini adalah identik dengan manusia neolitik, selain dari perubahan genetik yang terjadi sementara ini adalah melalui masyarakat, bahwa manusia mewarisi semua kemajuan yang dicapai oleh mereka yang terdahulu. Masyarakat berlaku sebagai tempat penyimpanan peradaban. Solidaritas menembus waktu bukan jalan satu arah: dia bukan selain bergerak kearah masa lalu, tapi juga ke arah masa depan. Tidak ada generasi yang puas dengan mewariskan pusaka yang diterimanya dari masa lalu: dia membuat sumbangannya sendiri. Bila setiap generasi hanya memelihara sesuatu, kemanusiaan tidak dapat berkembang. Keseimbangan tertentu harus dicapai. Bentuk-bentuk vandalisme berbeda – beda, akan tetapi hasil – hasilnya bisa dibandingkan dari sini terasa kebutuhan untuk intervensi oleh kekuasaan politik, yang merupakan suatu cara mencapai integrasi sosial.

0 CommentS:

Poskan Komentar

Terima kasih atas Komentarnya ya..

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Cari

Memuat...
Diberdayakan oleh Blogger.

Twitter

Pengikut

Statistik