Halaman

KOMERSIALISASI SENI PAGELARAN WAYANG KULIT


PENDAHULUAN

Bangsa Indonesia yang memiliki beragam suku bangsa memiliki kenekaragaman kekayaan khasanah kebudayaan baik tarian, maupun kesenian daerah. Di antaranya adalah budaya kesenian Ludruk, Ketoprak, Tari – tarian seperti Tari Remo dan Tari Kuda Lumping serta Wayang Kulit dan lain - lain.



Seni pertunjukan wayang kulit Jawa merupakan salah satu kesenian tradisional yang sarat akan filosofi dan kebijaksanaan. Demikian pula dengan Indonesia yang memiliki beragam suku bangsa dan kebudayaan yang beranekaragam dan berbeda satu dengan yang lainnya, namun semuanya turut memperkaya khsanah kebudayaan ditanah air ini. Masyarakat Jawa yang telah mendapat pengaruh dari budaya luar sebagai dampak arus perkembangan jaman, sebagian besar mulai melupakan makna pagelaran wayang kulit, oleh karena itu perlu diadakan penelitian mengenai masalah pergeseran makna ruang pertunjukan wayang kulit Jawa sebagai usaha untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat.


Keterkaitan pagelaran wayang kulit dengan perubahan fisik ruang dan pergeseran nilai serta makna yang terjadi pada obyek studi terkait, merupakan pokok permasalahan guna mencapai tujuan penelitian yang mengamati pergeseran makna ruang dalam bangunan tradisional Jawa Joglo dan gedung pertunjukan, dikaitkan dengan pementasan wayang kulit Jawa.
Pertunjukan wayang kulit disamping merupakan sarana hiburan juga merupakan salah satu bagian dari upacara-upacara adat seperti: bersih desa, ngruwat dan lain-lain. Untuk mementaskan pertunjukan wayang kulit secara lengkap dibutuhkan kurang lebih sebanyak 18 orang pendukung. Satu orang sebagai dalang, 2 orang sebagai waranggana, dan 15 orang sebagai penabuh gamelan merangkap wiraswara. Rata-rata pertunjukan dalam satu malam adalah 7 sampai 8 jam, mulai dari jam 21.00 sampai jam 05.00 pagi. Bila dilakukan pada siang hari pertunjukan biasanya dimulai dari jam 09.00 sampai dengan jam 16.00. Tempat pertunjukan wayang ditata dengan menggunakan konsep pentas yang bersifat abstrak. Arena pentas terdiri dari layar berupa kain putih dan sebagai sarana tehnis di bawahnya ditaruh batang pisang untuk menancapkan wayang.
Dalam pertunjukan wayang kulit, jumlah adegan dalam satu lakon tidak dapat ditentukan. Jumlah adegan ini akan berbeda-beda berdasarkan lakon yang dipertunjukkan atau tergantung dalangnya. Sebagai pra-tontonan adalah tetabuhan yang tidak ada hubungannya dengan ceritera pokok, jadi hanya bersifat sebagai penghangat suasana saja atau pengantar untuk masuk ke pertunjukan yang sebenarnya.
Sebagai pedoman dalam menyajikan pertunjukan wayang kulit biasanya seorang dalang akan menggunakan pakem pedalangan berupa buku pedalangan. Namun ada juga dalang yang menggunakan catatan dari dalang-dalang tua yang pengetahuannya diperoleh lewat keturunan. Meskipun demikian, seorang dalang diberi kesempatan pula untuk berimprovisasi, karena pakem pedalangan tersebut sebenarnya hanya berisi inti ceritera pokok saja. Untuk lebih menghidupkan suasana dan membuat pertunjukan menjadi lebih menarik, improvisasi serta kreativitas dalang ini memegang peranan yang amat penting. Warna rias wajah pada wayang kulit mempunyai arti simbolis, akan tetapi tidak ada ketentuan umum di sini. Warna rias merah untuk wajah misalnya, sebagian besar menunjukkan sifat angkara murka, akan tetapi tokoh Setyaki yang memiliki warna rias muka merah bukanlah tokoh angkara murka. Jadi karakter wayang tidaklah ditentukan oleh warna rias muka saja, tetapi juga ditentukan oleh unsur lain, seperti misalnya bentuk (patron) wayang itu sendiri. Tokoh Arjuna, baik yang mempunyai warna muka hitam maupun kuning, adalah tetap Arjuna dengan sifat-sifatnya yang telah kita kenal. Perbedaan warna muka seperti ini hanya untuk membedakan ruang dan waktu pemunculannya.


Arjuna dengan warna muka kuning dipentaskan untuk adegan di dalam kraton, sedangkan Arjuna dengan warna muka hitam menunjukkan bahwa dia sedang dalam perjalanan. Demikian pula halnya dengan tokoh Gatotkaca, Kresna, Werkudara dan lain-lain. Perbedaan warna muka wayang ini tidak akan diketahui oleh penonton yang melihat pertunjukan dari belakang layar. Alat penerangan yang dipakai dalam pertunjukan wayang kulit dari dahulu sampai sekarang telah banyak mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan teknologi. Dalam bentuk aslinya alat penerangan yang dipakai pada pertunjukan wayang kulit adalah blencong, kemudian berkembang menjadi lampu minyak tanah (keceran), petromak, sekarang banyak yang menggunakan lampu listrik.
Belakangan ini, para dalang wayang kulit "purwa" banyak yang merasa resah karena frekwensi pementasan mereka menurun. Dari ketika zaman orde baru yang cukup laris; beberapa ditengarai dengan pesanan dari beberapa instansi pemerintah yang cukup mampu menyisihkan dananya untuk mempergelarkan pementasan wayang-kulit, dengan beberapa pesan titipan yang harus disampaikan oleh para dalang itu.
Pada zaman sebelum orde baru, di banyak desa-desa para petani masih sempat mengadakan selamatan setelah panen dengan menggelar juga wayang-kulit. Banyak dalang-dalang bertaraf lokal yang berkesempatan meningkatkan frekwensi pementasan mereka. Pada masa itu, apa yang disebut prestise belum seperti orang sekarang menyikapinya.
Kebijakan para dalang pada masa itu pun tidak seperti sekarang. Para dalang pada jaman dulu itu, tidak menggunakan manajemen yang sekarang. Dalam hal mencari rejeki, dalang jaman dulu itu belum transaksional seperti sekarang. Pementasan adalah sebuah misi penyampaian pesan moral yang harus disampaikan kepada masyarakat luas. Urusan rejeki lebih pada sebuah kompensasional.
Sedangkan pada masa sekarang, para dalang sudah mengacu pada manajemen rejeki transaksional a'la barat. Lebih berhitung angka rupiah. Pemanggungan lebih menjadi seperti gaya modern; ada event organizer dan semacamnya.
Peralatan panggung cenderung lebih gebyar dan cenderung seperti panggung hiburan kebanyakan. Panggung berukuran lebih besar dan hampir tak mungkin untuk sebuah luas halaman; ukuran seluas lebih kurang 8 X 12 Meter hampir tak mungkin meski di halaman kelurahan sekalipun.
Tentang biaya, sudah pasti terlalu berat untuk kondisi masyarakat sekarang; yang juga sudah mengacu pola pikir yang ekonomis, di mana orang-orang di pedesaan pun lebih memilih menggunakan uangnya untuk biaya hidup dan biaya-biaya kebutuhan yang lain; seperti: lebih memilih untuk biaya sekolah anak-anaknya daripada untuk sebuah pergelaran kesenian yang begitu mahal. Karena untuk sekali mementaskan pagelaran Wayang Kulit dalam semalam harus mengeluarkan biaya minimal dua puluh lima juta rupiah sampai seratus dua puluh lima juta rupiah (Rp. 25 – 125 Juta).



 
ANALISIS
Seperti yang dikemukakan oleh Wilhelm Dilthey mengenai teori hermeneutiknya dimana kehidupan itu adalah suatu mafhum (komprehensi) metafisika, kehidupan adalah suatu kekuatan yang menjelaskan keinginan-keinginan perasaan (emosi) dan ruh, dan ini dipahami dengan pengalaman. Kehidupan adalah suatu rentetan berkesinambungan dan yang lewat menyambungkan yang sekarang; dan horizon masa datang menggiring kita ke arahnya. Seperti dalam ceritera pewayangan yang selalu bercerita mengenai pesan – pesan moral. Namun, temuan penelitian ini menunjukkan adanya indikasi pergeseran yang disebabkan karena penyesuaian terhadap berbagai perubahan yang terjadi mulai dari cara pementasan wayang kulit dulu dengan sekarang. Serta yang meliputi pergeseran seperti peristiwa pertunjukan, waktu, penonton, konten, dan ruang, dimana perbedaan ini pada akhirnya mengakibatkan munculnya pergeseran makna ruang dalam suatu pementasan wayang kulit Jawa. Hal ini tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya pandangan orang terhadap sebuah pertunjukan kesenian tradisional yang menyangkut dalam konteks waktu pertunjukan wayang kulit dulu dan pertunjukan wayang kulit sekarang.
Agaknya kebudayaan Jawa yang syarat akan nilai-nilai etika, termasuk di dalamnya pakem – pakem pementasan wayang kulit Jawa, ternyata lebih dari sekedar sistem nilai yang pada akhirnya berpengaruh kepada seluruh bidang kehidupan. Sistem nilai tersebut ternyata juga dapat diwujudkan dalam bentuk fisik. Pergeseran makna ruang pertunjukan dari system nilai yang terjadi seiiring dengan perkembangan jaman tersebut juga berpengaruh terhadap perubahan dalam bentuk fisik, khususnya dalam penelitian ini melihat pergeseran makna ruang pertunjukan wayang kulit Jawa.
Namun pada zaman sekarang ini terjadi pola perubahan. Seni pertunjukan wayang yang awalnya masih mengutamakan nilai-nilai adiluhung, kini telah bergeser dan mengalami pendangkalan mutu. Pertunjukan wayang yang kini cenderung 'melayani' selera pasar sebagai sarana hiburan sehingga estetikanya terabaikan.
Di beberapa daerah bahkan sering terjadi kerusuhan di kalangan para penontonnya yang suka mabuk-mabukan. Tampilnya para penyanyi dangdut dan campursari yang biasanya masih muda dan cantik-cantik sering menjadi pemicu keonaran penonton preman yang hanya ingin berhura-hura. Mereka tidak segan-segan mengancam dalangnya untuk segera mulai dengan acara dangdutan dan memaksa para penyanyi tampil dengan berdiri di tengah arena. Sering juga terjadi tawuran antarkelompok dan sampai mengakibatkan korban jiwa.
Pelayanan selera pasar tidak saja terbatas di tempat pergelaran, tetapi juga merambah ke siaran televisi. Penampilan dalang yang diselingi dengan hiburan lawakan dan lagu-lagu pop sering kebablasan bahkan ikut juga merusak mutu seni pedalangan. Memang dengan cara penayangan di televisi seperti itu jumlah penonton bisa mencapai ratusan ribu dan inilah yang diharapkan oleh para pengusaha dengan pemasangan iklan di televisi.
Tidaklah tertutup kemungkinan pergelaran wayang di televisi menjadi lahan bisnis yang bisa meraup keuntungan cukup besar. Namun demikian, dampak negatifnya sebagai sebuah pelecehan kesenian adiluhung sama sekali tidak menjadi perhatiannya. Menghadapi begitu besar dan beratnya persaingan dalam konteks komersial, para dalang yang mumpuni dalam penguasaan seni pedalangan sering tidak berdaya untuk menolak pihak penanggap yang menginginkan acara pergelaran wayang hanya dilihat dari kacamata "hura-hura". Akibatnya pertunjukan wayang lebih berat pada hiburannya dibandingkan dengan fungsi pendidikan moralnya.


Seperti yang dikemukakan oleh James Scott mengenai teori Mekanisme Survival. Dimana mungkin strategi para Dalang dalam memberikan tarif yang mahal hanya dengan alasan untuk membiayai kebutuhan hidup para dalang serta keluarganya. Sehingga harga yang ditawarkan untuk sekali pementasan pagelaran wayang kulit sebegitu mahalnya.
Kalau saja para empu yang dengan penuh pengabdian jiwanya pada seni pewayangan bisa menyaksikan rusaknya pergelaran wayang seperti itu, bisa dibayangkan betapa hancur luluh perasaannya. Padahal ketika menciptakan karya seni pewayangan, meliputi bentuk wayangnya, karawitannya, gubahan ceritanya yang sarat dengan nilai-nilai filsafat serta seni yang serba adiluhung, sikap jiwanya dalam berkarya senantiasa mendekatkan jiwanya dengan Sang Maha Pencipta. Dengan sikap jiwa dan pengabdian secara total itulah tercipta seni adiluhung. Kita sebagai pewaris budaya seharusnya bisa melestarikannya, mengembangkan dan mengagungkannya, dan tidak malah melecehkannya.

 

KESIMPULAN

Upaya melestarikan budaya tidak berarti bahwa tradisi seni pedalangan menjadi statis. Seperti halnya setiap kebudayaan pasti mengalami perubahan sesuai dengan zaman dan perkembangan masyarakatnya, demikian pulalah seni pedalangan banyak mengalami perkembangan. Teknologi modern dimanfaatkan untuk meningkatkan daya pesona pertunjukan wayang. Tata cahaya dan tata suara kini dikelola dengan canggih sehingga menghasilkan efek-efek yang mengesankan. Garapan ceritanya tidak terbatas pada pakem-pakem lama saja, tetapi digubah secara kontekstual dengan situasi dan suasana kehidupan masyarakat dewasa ini.
Dengan adanya pengakuan oleh UNESCO mengenai Wayang kulit sebagai karya agung budaya dunia pada tanggal 7 November 2003, di Paris Perancis. Sungguh suatu prestasi budaya bangsa Indonesia yang sangat gemilang. Penghargaan seluruhnya ada 30 negara yang karya budayanya dinyatakan sebagai karya agung dunia. Sehingga diperlukan pelestarian budaya yang tidak hanya mementingkan kepentingan ekonomi saja. Karena warisan jenis ini merupakan hasil kreativitas dan menjadi jati diri dan keanekaragaman budaya manusia. Sangat dikhawatirkan warisan budaya yang sarat dengan nilai-nilai budaya itu lambat laun akan bisa lenyap, terdesak oleh arus globalisasi ala westernisasi.

0 CommentS:

Poskan Komentar

Terima kasih atas Komentarnya ya..

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Cari

Memuat...
Diberdayakan oleh Blogger.

Twitter

Pengikut

Statistik